Review Buku

Review Santai Novel The Jacatra Secret

 

review buku the jacatra secret lenifey.com
Buku The Jacatra Secret

Ngomongin soal The Jacatra Secret, ada dua hal kenapa aku penasaran banget sama novel ini. Alasan pertama, aku pernah denger ada yang bilang kalau cara penulisan novel ini mirip sama novel karya Dan Brown. Sebagai penggemar Dan Brown sungguh kupenasaran sekali akan seperti apa gaya tulisan novel ini. Karena dari judulnya aku udah ekspektasi bakal mirip sama Davinchi Code dengan latar tempat di seputaran jakarta.

Alasan kedua, sebenarnya bulan agustus tahun ini – 2020, bakal ada acara tour based on book yang diadakan sama Kubbu yang harusnya rencananya sih berdasar sama buku The Jacatra Secret ini. Jadi nanti kita akan berkunjung ke tempat-tempat yang jadi latar di buku ini. Tapi ya karena ada pandemi nggak tahu deh bakal jadi apa enggak. Eh udah bocor duluan nih sama aku rencana tripnya. Haha.

Baca juga : REVIEW [SUKA-SUKA] : NOVEL DAN BROWN ORIGIN

Aku dapat buku ini pas jajan buku di bazar buku murah, Bad Book Wolf (BBW). Dari harga 97 ribu, aku bisa bawa pulang buku ini diharga 60 ribu. Yeay. So Happy. Nggak usah lama-lama lagi kita mulai lah ya reviewnya,

Dari pas buka halaman awal udah lumayan ruwet buat aku. Diawal bab alias prolog dalam buku ini dijelaskan mengenai ritual tentang pesaudaraan masonik dengan deskripsi yang sangat detail. Harus konsentrasi banget bacanya. Kalo nggak konsen pasti bakal lewat aja.

Ketika udah masuk bab 1, kerasa banget kayak de javu karena adegan dalam bukunya lumayan mirip sama adegan di Davinchi Code. Jadi di Bab 1 ini bercerita tentang Sudrajat yang dikejar pembunuh dan ditembak di Gedung Museum Sejarah Jakarta. Jasadnya ditemukan dengan posisi yang aneh, yang menandakan adanya pesan kematian. Hampir mirip dengan adegan sauniere yang dibunuh di Museum Louvre yang ditemukan dengan posisi aneh pula, pesan kematian untuk profesor Langdon.

Kalo di Davinchi Code aktor pemecah masalahnya adalah Profesor Langdon, di The Jacatra Secret pemecah masalahnya bernama Doctor Grant. Belum lagi ada bagian dimana Doctor Grand meminta bantuan temannya yaitu pak Kasturi. Di Davinchi Code pun ada Sir Leigh Teabing yang dimintai tolong oleh Profesor Langdon dalam memecah sandi-sandi.

Jujur saja setelah ada adegan pak Kasturi dalam hati aku lumayan takut baca buku ini. Takut kalau ceritanya bakal semirip itu sama Davinchi Code. Namun dalam dunia krearif ada hal yang dinamakan terinspirasi, mungkin Jacatra Secret sedikit terinspirasi dengan novel pendahulunya tersebut. Buat yang pernah baca novel The Davinchi Code kalian bisa tenang karena walaupun jalan ceritanya hampir mirip tapi twist nya nggak sama kok.

Yang paling menarik dari novel The Jacatra Secret ini menurutku adalah karena latar tempatnya di Jakarta kita bakal bisa membayangkan seperti apa tempat kejadiaan dalam adegan di buku. Apalagi buat aku yang tinggal di Jakarta. Beberapa tempat pasti sangat familiar, kayak Museum Fatahillah, Monas, Komplek Masjid Istiqlal, sampai daerah Jalan Merdeka Barat (jalan depan Stasiun Gambir).

Dengan membaca buku ini kita bakal merasa penasaran dan pengen liat langsung tempatnya. Apalagi tempatnya lumayan terjangkau sebenernya. Nggak kayak pas baca buku Dan Brown, kalau penasaran paling hanya bisa googling saja karena tempatnya jauh.

Kalau di buku Dan Brown aku penasaran sama Hagia Sofia di Turki, salah satu latar buku Inferno. Di Buku Jacatra Secret ini aku jadi penasaran sama gedung Bapennas dan Taman Taman Prasasti serta Terowongan Tanah Benteng yang entah masih bisa kita lihat jejaknya atau tidak. Karena tempatnya yang dekat jadi pengen memastikan dengan mata kepala sendiri segala hal yang ditulis dalam buku.

Untuk teman-teman pecinta sejarah, membaca buku ini akan banyak mendapat info sejarah. Banyak hal yang membuat saya takjub ketika membaca buku ini. Bagaimana Belanda melakukan pembangunan dengan mempertimbangkan tata letak yang baik. Dan menurut buku ini, sayang sekali karena banyak bangunan bersejarah yang penting di Jakarta tempo dulu dirubuhkan. Sehingga sama sekali tidak tertinggal jejak sejarahnya.

Ada satu tempat yang sangat menarik yang ditulis di buku Jacatra Secret ini, Terowongan bawah Tanah Benteng. Dikisahkan terowongan ini itu harusnya ada di bawah Masjid Istiqlal yang sekarang berdiri. Juga bagaimana penulis menjabarkan tentang sejarah daerah Menteng. Serta dijelaskan juga pola pikir yang ditanamkan penjajah kepada penduduk pribumi.

Namun karena sebanyak itu sejarah yang disampaikan kadang aku ngerasa beberapa penjabaran sejarahnya kepanjangan dan too much information dibeberapa bagian. Dan kalau boleh jujur aku ngerasa ceritanya nggak sepanjang itu. Terlalu padat disejarah tapi ceritanya kurang “nendang”.

Apalagi pas baca endingnya, oh aku lebih kesal lagi. Hahaha. Aku nggak tahu apakah buku ini ada kelanjutannya. Namun di bab terakhir sebelum Epilog ada bagian yang lumayan gantung yang menyiratkan sepertinya akan ada kelanjutan ceritanya. Entahlah. Kalau teman-teman ada yang tahu info lanjutan cerita ini boleh banget komen di bawah ya.

Buat aku, buku ini nggak senikmat yang aku ekspektasikan. Karena jujur aku lumayan berekspektasi ceritanya bakal seseru Davinchi Code.  Mungkin bagi aku kurang ‘gurih’ karena nggak ada twist yang sangat mengejutkan.

Yang aku dapatkan dari membaca buku ini jelas banyak informasi sejarah yang menarik plus keinginan buat sambang ke tempat yang disebutkan di buku. Setelah membaca buku ini penilaian aku tentang tempat-tempat yang ditulis mungkin tidak akan sama lagi. Akan ada perspektif baru ketika melewatinya.

Nilai Buku ini secara pribadi dariku 7 dari 10

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *