Travel

Pengalaman Wisata Korea Selatan Hari Kedua (Gyeongbokgung, Gwanghwamun, Myeongdong, Namsan Tower)

 

Perjalanan Korea Selatan hari kedua, saya dan teman-teman berencana ke Gyeongbokgung Palace, National Folk Museum, Gwanghwamun Square, Cheonggyeocheon Stream, Myeongdong dan Namsan Tower.

Hari itu jam 7 pagi kami sudah siap untuk sarapan sebelum berangkat wisata. Di tempat menginap kami untungnya sudah tersedia sarapan pagi. Cuma roti, selai dan jus jeruk aja sih. Cuma lumayan banget untuk backpacker irit kayak saya.

Kami buru-buru berangkat karena kami mengejar acara Changing Guard Ceremony yang diadakan jam 10 pagi. Btw acara Changing Guard Ceremony ini ada 2 kali sehari, yaitu jam 10 pagi dan jam 2 siang. Oh iya, Gyeongbokgung Palace ini tutup setiap hari selasa. Jadi perhatikan baik-baik penyusunan jadwal perjalanan anda. Untuk ke Gyeongbokgung Palace dari stasiun Hongik University, kami naik subway transit di Uljiro 3(sam)-ga (Line 3) lalu lanjut ke stasiun Gyeongbokgung keluar di Exit 5. Keluar dari stasiun, kita akan sudah langsung berada di kawasan Gyengbokgung Palace. Karena jam 10 masih lama, kami akhirnya masuk dulu ke dalam area istana sekalian foto-foto. Istana ini luas banget dan instagramable sekali. Enggak perlu kuatir kalo kamu solo traveling atau kalo mau foto bareng-bareng, di sana bertebaran petugas yang siap membantu kamu berfoto sampai puas dan mereka juga ramah-ramah. Biasanya petugasnya ini malah yang menawari apakah kita mau difoto atau tidak.

Gyeongbokgung Palace
Hasil Difotoin petugas Gyeongbokgung Palace

Kalau masuk ke dalam Gyeongbokgung Palace ini biaya masuknya sebesar 3000 won. Bisa juga membayar 10.000 won untuk paketan ke istana lainnya juga. Seinget saya paketan 10.000 won ini meliputi tiket masuk ke Gyeongbokgung Palace, Doksugung Palace, Changdeokgung Palace termasuk di dalamnya Secret Garden, Changgyeongung Palace dan Jongmyo Shrine. Kebetulan karena di ittinery saya mengunjungi 3 istana yaitu Gyengbokgung palace, Doksugung Palace dan Changdeokgung palace maka sekalian saja saya pakai tiket terusan yang harga 10.000 won. Tambahan lagi nih, kalo mau kece berfoto di istana bisa banget sambil menyewa hanbok di sana. Dan kalau kalian menggunakan hanbok bisa gratis masuk di semua istana yang ada di Seoul. Double kombo kan, dapet foto kece plus gratis biaya masuk istana. Yang bayar sewa baju hanboknya aja. Hahaha.

Gyeongbokgung
Ke Gyeongbokgung Memakai Hanbok

Jam 10 tepat ada bunyi-bunyi terompet, ini tandanya acara Changing Guard Ceremony sudah dimulai. Dulu kami cupu bangetlah nyariin tempat acaranya dimana enggak tahu. Jadi upacara ini dilakukan di halaman depan dekat pintu masuk yang mengarah ke Gwanghwamun Square. Jadi sesuai namanya ya Changing Guard Ceremony ini upacara pergantian shift penjaga di Gyeongbokgung. Habis upacara selesai kita bisa banget nanti foto-foto sama penjaga di sana. Setelah kelar nonton Changing Guard Ceremony karena kami belum selesai eksplore Gyeongbokgung ini akhirnya kami muter-muter sebentar.

Changing Guard Ceremony
Changing Guard Ceremony

Setelah capek muterin istana, sekitar pukul setengah 12 kami pindah lokasi ke National Folk Museum. Museum ini bentuknya bukan seperti museum yang saya bayangkan. Karena saya mengira saya akan memasuki ruangan besar dengan barang-barang antik korea. Ternyata National Folk Museum ini didesain seperti kota tua Korea. Jadi ada bangunan yang dibangun menyerupai rumah Korea jaman dulu lengkap dengan isi dalam rumah yang tentu saja seperti jaman-jaman kerajaan yang biasa saya tonton di drama korea. Bangunan lain dibangun menyerupai toko-toko perlengkapan Korea jaman lampau. Letak National Folk Museum ini ada dibagian belakang istana Gyeongbokgung. Ada petunjuk arahnya sih lewat pintu samping istana.

National Folk Museum
Replika rumah jaman kerajaan di National Folk Museum

Oh iya untuk yang muslim bisa banget sih kalo mau solat di National Folk Museum ini. Karena tempatnya enggak terlalu ramai jadi kalau mau solat pun enggak akan mencolok seperti kalau mau solat di Gyeongbokgung. Tapi jangan berharap di tempat ini ada musholanya ya. Jadi di National Folk Museum ini kebetulan di bagian belakang ada tempat duduk lebar (semacam dipan) buat piknik gitu. Nah bisa banget sih solat di atas situ.

Habis solat dan istirahat sebentar, saya dan teman-teman lanjut ke Gwanghwamun Square. Di sini adalah tempat biasanya orang berfoto dengan patung Raja Sejong dan Laksamana Yi Sun Shin. Dan jalan kaki dari National Folk Museum ke Gwanghwamun Square ini sungguh lah sangat jauh sodara-sodara. Jadi kalo mau ambil rute perjalanan seperti saya, ada baiknya mempersiapkan kaki dan mental anda. Hahaha. Jaman saya ke Korea untuk kedua kalinya, saya terpaksa skip National Folk Museum karena masih trauma jalan kaki yang super jauh menurut saya ini. Oh iya, pas saya kesana kebetulan di Gwanghwamun Square ini sedang ada semacam bazar barang kerajinan korea sama ada panggung musiknya. Kalau mau foto ala-ala di Shibuya Crossing Street yang di Jepang juga bisa banget di area ini. Menurut saya tempatnya ikonik sekali dan bagi yang pertama ke Korea jelas harus mengunjungi tempat ini.

Raja Sejong
Patung King Sejong Gwanghwamun Square

Berjalan lurus dari Gwanghwamun Square, akan terlihat monumen yang seperti keong, nah di sekitar monumen itu ada sebuah tempat ikonik lainnya di Korea. Chyeonggyeochoen Steam. Susah kan bacanya. Saya pun walaupun sudah di sana waktu itu enggak bisa melafalkan nama tempatnya dengan baik. Gwanghwamun Square dan Chyeonggyeochoen Steam ini dulunya enggak sebagus ini ya. Dahulu di tempat ini itu kumuh dan ruwet sekali. Tapi pemerintah Korea berhasil mengubah tempat ini menjadi tempat yang indah walaupun melalui perjuangan dan perjalanan yang tidak mudah. Di Korea sendiri Chyeonggyeochoen Steam ini menjadi semacam healing place, dimana kita bisa duduk sembari mendengarkan aliran air sungai mengalir. Tempatnya pun bersih sekali.

Cheonggyeocheon Stream
Cheonggyeocheon Stream, tempat asik untuk healing time

Sehabis dari Chyeonggyeochoen Steam karena hari sudah beranjak sore, kami bergegas ke Myeongdong. It’s Shopping Time. Hahaha. Untuk sampai ke Myeongdong, kami naik subway dari stasiun Gwanghwamun, transit di stasiun Dongdaemun History and Culture Park turun di stasiun Myeongdong keluar di Exit 5, 6, 7, atau 8. Di Myeongdong ini ada outlet skincare Korea yang bejibun jumlahnya dari merk yang sangat familiar di Indonesia semacam Etude House sampai yang namanya jarang terdengar semacam Banila.co tumplek di Myeongdong ini. selain itu ada macam-macam outlet baju juga seperti SPAO, UNIQLO juga macam-macam outlet fashion Korea yang lucu-lucu dan kekinian sekali. Di Myeongdong pun ada sejenis pedagang kaki 5 yang jualannya di jalan gitu dan yang dijual pun macam-macam ada kaos kaki lucu, Btw ini bisa banget dibuat oleh-oleh. Harganya kisaran 1000 won. Biasanya ada promo 10+1. Ada jual baju-baju juga dan lumayan murah. Biasanya paling murah kisaran 5000 – 10.000 won. Sebenarnya kalau dirupiahin tuh harga bajunya enggak semurah itu sih sekitar 50.000-100.000 rupiah. Tapi kalian harus coba beli fashion item disana kalo saran saya, bahannya enak dan beda walaupun belinya di kaki lima. Dan di sore menjelang malam hari, macam-macam street food korea berjejer menebarkan bau harum yang kalo kita lewat di depannya bikin ngiler terus. Kalo masalah halal sih dipertanyakan ya. Tapi kalo mau jajan, saran saya sih lihat saja pedagangnya jualan apa. Kalo sekiranya yang dijual enggak campur sama yang haram silahkan saja kalo mau makan. Dosa ditanggung masing-masing. Hahah.

Myeongdong
Shopping time di Myeongdong

sehabis muter-muter Myeongdong perut kami tiba-tiba menjerit minta diisi. Seperti biasa karena kami irit, akhirnya kami masuk ke convinient store dan beli nasi kepal. Kami makan di depan convinient store sambil mikir bagaimana cara ke Namsan Tower. Ketika kami sedang duduk sambil buka bungkus nasi kepal, kami sebenarnya enggak tau cara buka bungkusnya. Lalu ada bapak sopir taksi yang kebetulan sedang istirahat juga melihat kami yang sungguh cupu ini tidak bisa membuka bungkus nasi kepal dan akhirnya dibantuin.Padahal si Bapak bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan kami karena enggak paham bahasa inggris. Ah, kadang yang bikin kangen traveling tuh ya yang kayak gini, padahal cuma dikasih tahu cara buka bungkus nasi kepal saja saya sudah baper. Hahah.

Sebenarnya waktu itu kami galau mau ke Namsan Tower hari ini atau besoknya. Karena to be honest kami sudah capek sekali jalan kaki dari pagi. Terus saya sebenernya pengennya dapat view terang di Namsan. Kalo seandainya kami berangkat hari ini sudah pasti kami sampai Namsan sudah gelap. Tapi karena kami ingin strict sama jadwal, akhirnya kami bergegas ke Namsan. Kami jalan kaki dari Myeongdong ke Namsan Tower. Saya lupa rutenya, yang pasti jauh sekali sepertinya lebih dari 1 km jalannya. Waktu itu saya tanya rute ke Namsan Tower di Tourist Information Center.

Kami sampai di lokasi cable car Namsan Tower setelah jalan kaki lumayan jauh dengan jalanan yang menanjak. Bikin kaki makin ngilu. Untuk sampai ke lokasi cable car kita akan antri naik lift yang miring dan nanjak. Tiba di gedung tempat cable car, kami masih harus naik tangga sekitar 3 lantai dan antrian yang super panjang untuk naik ke cable car ini. Oh iya bayar tiketnya 8500 won pulang-pergi.

Namsan Tower
lift miring di Namsan Tower

Di dalam area Namsan Tower saya sudah capek parah. Sampai-sampai foto pun sambil glosotan di lantai. Kami bertiga hanya menghabiskan waktu kurang dari 1 jam bahkan di Namsan Tower. Bawaannya ingin cepat-cepat pulang ke penginapan dan bobok. Haha. Segitu pas kami pulang, kami masih harus mencari stasiun Myeongdong karena kami nyasar terus pas lewat undergrond shopping centernya. Alhamdulillah rejeki anak sholehah, kami diantar seorang bapak sampai ke depan pintu stasiunnya. Padahal bapak itu bahkan enggak mau ke stasiun.

Sekian cerita hari kedua di Korea. Sampai jumpa di cerita hari ketiga.

72 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *