Travel

Pengalaman Wisata Korea Hari Keempat (Deoksugung Palace, Bukchon Hanok Village, Changdeokgung Palace dan Secret Garden, Ihwa Mural Village)

ChangdeokguLenifey_salah satu sudut Changdeokgung Palaceng Palace
Changdeokgung Palace

Masih cerita perjalanan saya ke Korea yang enggak ada habisnya kayak sinetron tersanjung, semoga enggak bosen bacanya ya. Heheh. kali ini sudah masuk ke hari keempat loh. Hari ini jadwalnya untuk pakai kartu paketan istana yang sudah saya beli di hari kedua saya di Korea. Sudah bisa nebak-nebak ya saya mau kemana. Yup, sekarang waktunya jadi putri Korea jalan-jalan di Istana.

DEOKSUGUNG PALACE

Namanya susah ya. Jaman nyusun Ittinery saya pusing banget pas baca-baca di internet nama-nama tempat di Korea. Taunya Nami sama Namsan doang emang kalo ke Korea. Saya pun pas jaman pergi ke Korea ini sejujurnya ittinery nya nebeng teman. Pokoknya teman kemana saya mah ngikut aja. Hahah.

Di Deoksugung ini sama seperti di Gyeongbokgung ada atraksi Changing Guard Ceremony yang bisa dinikmati setiap jam 11:00, 14:00 dan jam 15:30 setiap harinya. Jangan lupa hari senin istana ini tutup ya. Hati-hati bikin ittinerynya. Oya, karena sudah beli paketan Istana Pass seharga 10.000 Won pas di Gyeongbokgung, saya enggak bayar lagi buat masuk ke istana ini. Tapi kalopun mau beli tiket satuan disini pun harganya murah kok. Hanya 1000 won saja.

Di istana ini ada booth penyewaan baju tradisional Korea, Hanbok. Boothnya ada di depan istana dekat tempat penjualan tiket. Jangan ngarep bajunya bagus banget ya. Model bajunya biasa saja kalo menurut saya. Tapi buat yang budgetnya mepet boleh lah icip-icip pakai hanbok dimari plus foto dengan latar belakang istana. Oya pakai hanboknya hanya diberi waktu 5 menit karena yang antri lumayan banyak waktu itu jadi harus gantian.

Enaknya nonton atraksi pergantian penjaga di istana ini daripada di Gyeongbokgung tuh kita bisa liat penjaga-penjaganya atraksi dengan jarak yang dekat sekali. Bahkan ditengah-tengah atraksi, ada satu waktu kita diijinkan foto sama penjaga yang sedang atraksinya. Kalau di Gyeongbokgung biasanya kita baru bisa foto sama penjaganya kalau atraksi pergantian penjaganya sudah selesai. Jadi kalau di Deoksugung ini kita tidak hanya bisa foto sama penjaganya, bahkan bisa ambil gambar sama yang bawa alat musiknya.

Lenifey_changing guard ceremony deoksugung 2
Pemusik pada Atraksi Changing Guard Ceremony

Saya sama teman saya tergolong sedang beruntung, pas nyoba hanbok pas banget pita pembatas atraksinya dibuka. Jadi bisa foto sama penjaganya sambil pakai hanbok. Oya di Deoksugung ini beberapa penjaganya juga atraktif sih menurut saya. Kalo diajak foto dia mau lihat ke kamera. Rata-rata foto sama penjaga pasti matanya enggak lihat kamera. Satu info lagi, di Gyeongbokgung saya pernah di tegur karena ambil foto sambil gaya kagum liat penjaganya. Jadi kalau ambil gambar, gaya fotonya biasa aja ya teman. Jangan kebanyakan tingkah kayak saya. Hahah.

Lenifey_changing guard ceremony deoksugung
Beruntung pas Pinjam Hanbok pas Atraksi Changing Guard Ceremony

Kalau untuk luas Istananya masih lebih luas Gyeongbokgung sih daripada disini. Tapi kalau kesini pas peak autumn, vibe autumnya lebih bagus disini menurut saya daripada di Gyeongbokgung. Selain itu yang berkunjung juga enggak serame di Gyeongbokgung jadi enak banget buat jalan dan duduk-duduk santai disini.

Lenifey_Salah satu sudut deoksugung palace
Deoksugung Palace yang sepi

Bukchon Hanok Village

Pulang dari Deoksugung, kami melanjutkan perjalanan ke Bukchon Hanok Village. Buat yang pengen lihat rumah-rumah tradisional Korea, boleh mampir kemari. Bukchon Hanok Village ini sebenarnya rumah warga biasa, jadi kalau berkunjung disini nggak boleh berisik. Kalau punya budget lebih boleh banget sewa hanbok terus foto disini. Tapi karena termasuk tempat yang turis sekali, susah banget foto “bersih” disini dengan background diri sendiri sama rumah hanok saja. Harus sabar banget. Hahah.

Lenifey_bukchon hanok village
Harus Pinter Cari Spot Kosong

Karena area Bukchon Hanok Village ini lumayan luas rawan nyasar buat keluarnya. Baiknya pariwisata Korea, disudut-sudut jalan suka ada petugas yang fasih bahasa inggris buat jelasin jalan untuk turis. Oya, di Bukchon juga ada beberapa toko aksesoris, boleh banget kalo mau masuk dan belanja. Ada satu tempat yang ingin saya kunjungi sih kalau bisa ke sini lagi yaitu Granhand. Granhand ini toko parfum handmade gitu. Jadi bisa bikin your own style parfume.

kalau ada uang dan waktu yang lebih saya sih lebih pengen ke Jeonju Hanok Village. kayaknya lebih proper untuk lihat rumah tradisional korea. Tapi memang letaknya di luar kota. Buat yang mau ke Korea bisa banget dipertimbangkan untuk kesana.

Changdeokgung Palace dan Secret Garden

Sebenarnya kalau saya pribadi ke Changdeokgung Palace ngincer pengen ke Secret Gardennya. Karena saya kesana pas musim gugur, sudah ngebayangin kalau pergi ke taman itu saya akan menemui daun-daun merah berderet. Tapi karena saya ke Korea pas awal-awal musim gugur, saya harus menerima kenyataan pohon-pohonnya masih ijo-ijo. Sedih banget.

Lenifey_Changdeokgung palace
Salah satu bangunan di Changdeokgung Palace

Istananya sendiri menurut saya lebih luas dibandingkan Deoksugung. Ditambah luas Secret Gardennya, lumayan lelah juga jalannya. Hahah. Kebetulan kalau di Changdeokgung sama Secret Garden ini ada pemandu yang disediakan oleh pihak istananya. Jadi bisa tahu sejarah tempat ini. Tapi karena saya sibuk moto dan mau menikmati jalan santai, saya jadi ketinggalan pemandunya.

Kebetulan banget waktu saya solat pas di tempat ini. Karena enggak ada tempat solat, saya akhirnya numpang di ruang Laktasi karena kebetulan kosong. Ini saya nyaman banget sih solat disini walaupun enggak solat di mushola. Bisa jadi alternatif buat teman-teman cewek yang nyari tempat solat.

Lenifey_secret garden
Area Secret Garden. kayaknya bagus banget kalau peak autumn

Ihwa Mural Village

Tempat ini adalah salah satu Mural Village yang sangat terkenal. Kalau ke Korea pasti kemari. Buat yang doyan nonton drama Korea, wajib banget sih kemari. Tempat ini adalah tempat syuting banyak banget drama-drama Korea. Siapkan tenaga juga kalau mau kemari karena jalannya nanjak enggak main-main.

Lenifey_Ihwa Mural Village
Jalanan ini pernah muncul di drama korea. Tapi saya lupa judulnya

Sayangnya pas waktu saya kemari, banyak banget mural yang sudah dihapus karena penduduk wilayah tersebut merasa terganggu sama banyaknya turis yang datang kesana. Dah capek-capek nanjak, eh nggak ada muralnya. Sedih banget lah.

Di tempat ini selain mural menurut saya daerahnya emang kece sih. Banyak tangganya. Karena daerahnya memang naik. Selain itu banyak kafe dan toko-toko yang etalasenya juga memang cantik. Di dekat Ihwa Mural Village sebenernya ada satu tempat lagi yang bisa dikunjungi yang namanya adalah Naksan Park. Tapi, waktu itu saya harus cepat-cepat balik karena teman saya perutnya sakit dan pengen kebelakang. Jadi kami buru-buru ke stasiun cari toilet. Hahah.

Lenifey_toko di ihwa mural village
Etalase toko kece di Ihwa Mural Village

DONGDAEMUN

Pulang dari Ihwa Mural Village karena hari masih sore, kami akhirnya memutuskan mampir lagi ke Dongdaemun. Kali ini tujuan kami ke Dongdaemun adalah belanja oleh-oleh. Di Dongdaemun, ada sebuah mall yang namanya Migliore. Migliore buka 10.30 pagi dan tutup jam 04.30 pagi. Iya kalian enggak salah baca kok, tutupnya emang subuh.

Lenifey_Migliore
Tutup subuh. hahah

Tempat oleh-oleh adanya di lantai 6. Di sana oleh-olehnya banyak banget bentuknya. Dari mulai gantungan kunci, magnet kulkas, sampai kaos kaki pun ada. Enaknya enggak perlu nawar. Nawar dikit boleh lah. Kalo beli banyak dia suka ngasih diskon juga. Disana bahkan penjaga tokonya bisa komunikasi sedikit dengan bahasa Indonesia. Misalnya “dua lima ribu” maksudnya kalau ambil 2 bungkus harganya 5000 won.

Setelah selesai beli oleh-oleh diperjalanan mau turun, teman saya tiba-tiba pengen beli jaket Bomber buat adeknya yang cowok. Waktu saya ke Korea oktober 2016, di Korea sedang hits banget jaket Bomber. Bahkan sebelum bapak Presiden Joko Widodo pakai dan akhirnya hits di Indonesia.
Sebelumnya kami sempat tanya-tanya harga Bomber wanita di tenant dekat Ehwa University dan harganya dikisaran 30.000 won. Karena kami sudah tahu perkiraan harganya akhirnya kami tanya ke salah satu toko jaket disana dan menanyakan harga Bomber laki-laki yang ternyata lebih mahal harganya yaitu 65.000an won atau sekitar 600 ribu rupiah lebih.

Sempat pengen batal beli karena mahal sekali harganya. Kebetulan si penjaga toko adalah oppa-oppa yang sangat atraktif dan lucu. Dia bisa komunikasi dengan kami pakai bahasa inggris dikit-dikit. Si Oppa penjaga toko ini karena keterbatasan bahasa sampai tebak-tebakan umur sama kami, padahal kami lagi nawar harga jaket eh dia malah sebutin umur dia. Nggak lupa si Oppa kami bohongi kalau kami masih umur 17 tahun. Hihihi. Tawar-menawar jaket berakhir di harga 55 ribu won. Serius ini nawarnya susah banget. Kami nawar ini bahkan sampai 1 jam lamanya, sambil becanda tapi. Di Korea walaupun nawar biasanya memang turunnya enggak bakal bisa jauh banget kayak kalau kita nawar di Indonesia. Jadi jangan kebangetan ya nawarnya.

Lenifey_oppa penjual jaket
Oppa penjual jaket. Rada ngeblur fotonya karena ambil dari video.

Sekian perjalanan hari keempat. Lanjut hari kelima di tulisan selanjutnya. See You

27 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *