Travel

Pendakian Gunung Merbabu Via Selo

“Eh, Mas Bambang kan merit di Semarang nih. Kondangan sekalian naik gunung yuk.” Kata Titi suatu hari.

“Ke gunung mana ya enaknya?” tanya Leni.

“Gunung terdekat dari Semarang sih kalau enggak Andong ya Merbabu atau Merapi.” Jawab titi.

Dari omongan-omongan itulah akhirnya kami fix memutuskan mau ke Merbabu. Padahal bagaimana kesananya juga belum tahu. Pokoknya niatnya dulu nih dah bulat (kek tahu). Haha. Dari situ juga kami akhirnya memutuskan untuk membujuk si Yuan ikutan kondangan. Biar bisa bawain tenda. Haha.

Setelah itu kami berdua, saya dan Titi, jadi sibuk searching bagaimana cara menuju ke Merbabu. Dari hasil seaching yang kami peroleh, rute terbaik untuk ke Merbabu adalah dengan menggunakan kereta api turun di Stasiun Solo Jebres dilanjutkan naik angkot nyambung-nyambung sampai ke basecamp di Selo. Tiket kereta pulang pergi pun dipesan. Kami naik kereta ekonomi waktu itu. Perginya dapat tiket harga 80 ribu sedangkan pulangnya harga 120 ribu.

Beres masalah transportasi, masalah kedua adalah perlengkapan pendakian. Sebelum ke Merbabu ini, kami hanya pernah ke gunung dengan ketinggan 2000an mdpl, Gunung Papandayan dan Gunung Prau. Dua-duanya pakai jasa open trip. Jadi kami enggak punya tenda, nesting dan kompor buat perlengkapan pendakiannya. Waktu itu kami punya dua opsi, nyewa atau beli. Dan setelah dihitung-hitung plus survei di beberapa toko outdoor dan penyewaan barang outdoor, lebih “murah” kalo kami beli benda-benda tersebut, jadi punya barangnya juga untuk jangka panjang. Berangkatlah saya dan Titi ke sebuah Toko Outdoor, saya lupa namanya, tapi toko tersebut ada di depan Brimob Jalan Kelapa Dua Depok. Di tempat tersebut peralatan yang kami cari, nesting dan kompor, lebih murah dari toko outdoor lainnya. Dari toko ini kami membungkus kompor dan nesting. Tadinya mau bungkus tenda juga tapi kami sudah ada rencana buat beli tenda di event Indofest.

H-5 keberangkatan kami kumpul buat ngomongin teknis rencana keberangkatan, belanja logistik dan kapan mau ke Indofest buat beli tenda. Dari situ diputuskan yang akan ke Indofest Titi dan Yuan karena tempat kerjanya di Jakarta, lebih gampang ke sananya. Kalo Leni kerjanya di Desa Ciracas jadi jauh kalau mau ke Indofest. Haha.

Hari Rabu Titi dan Yuan ke Indofest dapat Tenda isi 4 harga 300 ribu dan flysheet harga 120 ribu plus trekking poll harga 100 ribuan. By the way tendanya bahkan baru dibuka pas sudah sampai Sabana 2 Merbabu dengan kami bertiga yang enggak tahu cara masang tendanya. Sungguh kecerdasan yang hakiki.

Hari kamis 7 April 2016 sore kami janjian kumpul di Stasiun Pasar Senin. Hampir saja drama ketinggalan kereta. Untung keretanya kebetulan delay. Hehe. Kereta berangkat sekitar pukul 4 sore dan kami duduk tenang dan bahagia sampai Stasiun Solo Jebres sekitar pukul 3 pagi. Jaman dulu di Luar Stasiun Solo Jebres belum ada bangku-bangku buat duduk, terus enggak boleh duduk nunggu di dalam stasiun, jadi kami ngemper di luar stasiun sampai pagi. Hiks.

Ngemper di depan Stasiun Solo Jebres

Disela-sela waktu nunggu pagi, kami ngomongin bagaimana transportasi buat sampai basecamp. Kebetulan waktu itu ada sekelompok mas-mas (dan 1 mbak) yang mau naik gunung juga. Jadi kita mau sok SKSD kali-kali bisa nebeng. SKSD pertama dilakukan sama Yuan. Gagal. Payah emang. #Maapyu. Haha. SKSD kedua dilakukan sama Titi yang sungguh jago sekali sehingga kami dapat tumpangan sampai basecamp. Yeeay. Walaupun sebenernya mereka mau ke Merapi tapi karena arah basecampnya searah jadi kami bisa ikutan nebeng. Abis itu si Titi langsung galau pengen pindah haluan ke Merapi. Katanya sekalian banyak temennya. Padahal sebenernya mau modus. #Eh. Hahah.

Setelah solat subuh di Stasiun kami mulai tawar-menawar mobil Elf. Seinget saya kami urunan 50 ribu perorangnya. Harga Elf nya sepertinya sekitaran 400-500 ribu waktu itu. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti dulu di minimarket untuk melengkapi perbekalan dan juga sempat ganti ke mobil bak terbuka karena mobil Elf nya enggak kuat nanjak.

Salah dua dari mbak dan mas yang menebengi kami
Pemandangannya bagus sekalii 😍😍

Sekitar jam setengah 9 pagi kami sampai di basecamp Selo. Sewaktu mau masuk basecamp kami bertemu beberapa orang yang akan naik, sempet ngobrol-ngobrol berharap nanti bisa pasang tenda deketan. Pas di basecamp kami buru-buru mandi dan sarapan. Karena kami mengejar waktu biar enggak kemalaman pas sampai sabana 2, tempat rencana kami buka tenda. Kami juga sengaja beli nasi bungkus di Ibu basecamp biar pas makan siang kami enggak perlu buka nesting dan kompor, lebih efisien juga. kami berangkat naik sekitar pukul 10 pagi. Disertai dengan baca doa kami memulai pendakian solo pertama kami.

Jalur Pendakian Selo Merbabu
Gerbang sebelum jalur pendakian. Katanya sekarang sudah lebih bagus

Jalur pendakian lewat selo ini jalur tertutup, lewat hutan-hutan dan banyak pohon-pohonnya. (hutan mah emang banyak pohon, gimana dah). Jalur ini juga enggak dilalui air sama sekali. Jadi prepare air sebaik-baiknya, ya. Kalau kami saking takutnya kekurangan air perorangnya kami bawa 3 botol air mineral ukuran 1,5 liter. Bahkan Yuan bawa 4 Botol. Hahah. Terus pas ditanyain sama porter yang kami temuin di pos 3, si mas porter bilang “banyak amat bawa 10 botol mas”. Dia enggak tahu aja kami mau mandi di atas. Hahah. Dari basecamp ke Pos 1 kami tempuh sekitar 1,5 jam. Jalannya masih landai, bisa sambil ngobrol dan muka masih cerah bahagia. Pas sampai Pos 1 kami enggak bisa berhenti lama-lama karena ada monyet nya. Jadi kami hanya minum sebentar lalu lanjut ke Pos 2. Di tengah perjalanan ada pos 2 bayangan padahal kami sudah senang sekali. Ternyata kami di-PHP. Di pos bayangan kami berhenti untuk minum dan makan roti. Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 memakan waktu sekitar 2 jam. Di Pos 2 saya dan Titi memutuskan untuk solat Dhuhur dan jamak solat Ashar. Kebetulan kami ketemu sama rombongan yang sempet ngobrol-ngobrol sama kami pas di basecamp. Kami solat bareng terus tanya mereka rencana mau buka tenda dimana. Tapi waktu itu mereka masih bingung mau buka tenda dimana. By the way, kami jarang sekali ketemu rombongan pendaki, karena kami naik hari jumat waktu itu. sepi sekali.

Kami lanjut perjalanan ke Pos 3 jalurnya sudah mulai terbuka (pohonnya sudah jarang) dan sudah mulai lumayan tanjakannya. Perjalanan kami sampai pos 3 sekitar 1 jam. Sampai di pos 3 kami segera buka bekal makan siang karena sudah lapar. Di Pos 2 sengaja enggak makan siang takut waktu berhentinya terlalu lama karena kami harus solat juga. setengah jam berhenti untuk makan, kami siap-siap lagi. Baca-baca di beberapa blog, jalur pos 3 ke pos 4 Sabana 1 ini yang paling luar biasa tanjakannya. Dan setelah jalan sendiri, memang benar tanjakannya luar biasa sekali. Untungnya kami di bantu sama beberapa bapak-bapak porter. Ditunjukkan jalur yang lebih “enak”nya. Kami sampai Sabana 1 sekitar pukul 3.30 tapi karena kami mau buka tenda di Sabana 2. Kami enggak bisa lama-lama istirahat di Sabana 1. Sebenernya dikasih tahu sama bapak porter untuk camp di Sabana 1 saja. Tapi pertimbangan kami camp di Sabana2 adalah biar pas muncak enggak terlalu jauh. Padahal sebenernya kalo sekarang dipikir-pikir, lebih baik camp di Sabana 1 biar gendong kerilnya enggak terlalu jauh. Haha.

Jalanan dari Sabana 1 menuju Sabana 2
Jalanan dari Sabana 1 menuju Sabana 2

Jalur dari Sabana 1 ke Sabana 2 kami sudah bisa jalan dengan lebih santai. Sembari saling ngasih semangat. Jalur ke Sabana 2 ini indah sekali sih ya. karena kalo kita noleh ke belakang latarnya adalah Gunung  Merapi. Kami sampai Sabana 2 tepat jam 5 dan dapat kejutan kalo penghuni Sabana 2 cuma kami bertiga.

Ngalay di Sabana 2

Pas sampai Sabana 2 PR banget karena harus pasang tenda. Karena kami enggak ada yang pernah mendirikan tenda, proses tenda berdiri bahkan sampai 1 jam. Galau mau masang dimana lah, salah masang rangka lah sampai salah posisi pintu tenda. Jam 6 tepat kami beres masang tenda dan kebetulan ada satu rombongan lagi yang datang. Tapi karena Titi sudah kedinginan, kami langsung masuk tenda, jadi kami enggak sempat kenalan atau ngobrol dengan rombongan tersebut.

Karena Titi kedinginan dia langsung masuk sleeping bag. Harusnya ganti baju dulu ya.  Karena kita kedinginan gara-gara baju kita basah kena keringat terus kena angin gunung. Karena Leni sibuk ngebungkus Titi yang kedinginan (takut doi hipotermia) pakai emergency blanket, akhirnya yang masak Yuan. Selesai masak dan makan, kita ganti baju. Abis ganti baju si Titi langsung bugar. Dasar emang. Jam 9 malam kita fokus tidur soalnya harus bangun jam 2 buat summit.

Masak-masak plus makan di tenda. Buluk sekalih. 😂😂

Perjalanan ke puncak kami tempuh sekitar 2 jam. Di jalan kami ketemu banyak orang yang diajak ngobrol tapi enggak tahu bentukan mukanya karena gelap. Hihi. Kalau ditanya trek kepuncak bagaimana, jujur saya ngerasanya biasa aja pas naik karena jalurnya gelap saya fokus aja ke jalan enggak jelalatan liat kanan kiri. Tapi pas waktu turun baru kerasa “loh ini jalur yang kita naikin tadi?” terus langsung bangga sama diri sendiri. Hahah. Kami sampai puncak sebelum matahari naik. Sempet solat subuh juga di puncak. Tapi sayangnya kami enggak bisa liat matahari terbit seutuhnya karena ketutup awan. Hiks. Tapi karena kami sibuk foto jadi lupa juga enggak kedapetan sunrise. Haha

Narsis di puncak pake trekking poll baru 😂😂

Jam 8 kami siap-siap turun. Pas mau turun kami tiba-tiba disapa sama rombangan adek-adek minta foto bareng katanya yang naik bareng pas summit. Kami sih ayo aja kalo diajak foto sih. Apalagi diajak nikah. Eh. Hahah. Akhirnya kami pun turun bareng terus mereka sempet makan bareng kami juga sekalian ngabisin perbekalan kami yang ternyata super berlebihan. Waktu itu saya sempet iseng-iseng nanya “kalian nama IG nya apa? ntar di follow.” Terus salah satu dari mereka menjawab “kami enggak main sosmed kak.” “terus kalian kalo foto-foto diupload kemana?” tanya saya lagi. “di Facebook kak.” Oke facebook bukan sosmed. Haha.

Adek-adek yang enggak main sosmed

Sekitar jam 10an kami sudah siap-siap untuk turun. kalau pas naik cuaca cerah berawan, pas turun kami dapet ujan. Lumayan sih mana kami sempet salah jalur pas turun dari Sabana 1 ke Pos 3. Ini jalurnya curam sekali. Udah curam, licin pula. Sempet prosotan juga jadinya gara-gara licin. Tapi Alhamdulillah udah enggak ujan pas dari pos 3 sampai seterusnya. Cuma jalannya harus hati-hati. Di pos 2 kaki saya udah mulai gemetaran. Tapi masih bisa ditahan-tahan. Pas di Pos 1 menuju basecamp gemeterannya makin parah jadi jalannya udah enggak bisa cepet. Ini mau nangis sih pengen jalan tapi kaki nya enggak mau nurut. Hiks. Kami sampai basecamp sekitar setengah 3. Lumayan lama juga ya. haha

Turunan pas kita salah jalur dari Pos 4 ke Pos 3 Merbabu
Turunan pas kita salah jalur dari Pos 4 ke Pos 3

Di basecamp kami ketemu lagi sama yang solat bareng pas di Pos 2 setelah kenalan barulah tau namanya Yoga. Kami harus buru-buru mandi dan makan karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Semarang buat Kondangan. Di basecamp­ ada sewa mobil bak untuk turun. Setelah ditawar dapatlah harga 200 ribu sampe terminal bus berkat negoan Titi. Jam 9 malam kami sampai Semarang. Dilanjut kondangan keesokan harinya.

Kalo ditanya gimana perasaannya abis naik Merbabu, jawabanya AMAZING. Kami bertiga yang biasanya selalu iku open trip dan naik gunung 2000an mdpl terus berhasil naik merbabu sampai puncak itu, kadang masih enggak percaya. Hahaha

 

 

 

49 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *